Selasa, 30 Agustus 2016

Setiap Orang Memiliki Kutukan

Udin
Pilihan pertama dan satu-satunya. Aku harus pasrah dengan keputusan lelaki itu saat mengisi jurusan jalur SNMPTN. Aku merasa ini memang kutukanku sejak kecil. Aku tak bisa memilih. Aku hidup dalam petunjuk arah dan rambu-rambu mereka. Namun, aku telah bertekad untuk tak lagi bergantung. Aku akan berdiri dengan kakiku sendiri, dan menghapus kutukan itu.
Termasuk dalam hal cinta, aku dikutuk untuk menjadi pengecut. Apalagi mau bilang "Aku suka kamu," berkenalan saja hanya sebuah rencana. Praktiknya? Nihil! Yah, menjadi pengagum rahasia menjadi keahlianku, termasuk stalking siapa targetku.
"Ada yang hafidz atau hafidzah?" tanya Pak Dekan pada peserta Stadium Generale di aula Faculty of Philosophy Kampus Kerakyatan.
Beberapa mengacungkan tangannya, cewek maupun cowok. Pujian terlontar untuk mereka. Yah, semoga mereka tetap menjaga Kalamullah dalam diri, ingatan, dan perbuatan.
"Tidak menutup kemungkinan mahasiswa kedokteran, teknik, hukum itu yang tadinya beragama menjadi atheis, to?" lanjut Pak Dekan. "Jadi, menjadi mahasiswa Filsafat juga gak sepenuhnya membuat Anda atheis, itu tergantung orangnya. Makanya banyak dari kakak tingkat kalian yang tinggal di pondok pesantren..." tuturnya.
Pesantren ya? Aku juga di pesantren. Apa mungkin ada santriwati yang menjadi salah satu dari mahasiswa sini? Haha, kurasa hanya aku saja.
"Yang hadir di sini ada yang masuk pesantren?" tanya Pak Dekan.
Beberapa orang mengacung, bisa dihitung jari. Aku tidak termasuk.
"Anda di pesantren mana, Mbak?"
Mbak? Hah? Ada cewek santri yang nyasar di sini?
"Wahid Hasyim, Pak. Dekat UIN Kalijaga," jawab santriwati itu.
Dia bernama Fifi Anggita. Cantik. Sederhana. Baru mulai mondok di pesantren, sama sepertiku.
Aku memang diharuskan menjadi santri saat kuliah, apapun jurusannya. Yah, ini adalah permintaan Ayah yang terakhir, selanjutnya aku akan membuat keputusan sendiri. Aku harus berdiri dengan kakiku sendiri.
Kurasa cewek santri itu tak mungkin berada di kelasku. Semoga saja, biarkan aku merasakannya untuk hari ini saja. Karena aku sudah pernah mengalami hal serupa, dan itu membuatku sakit. Cukuplah untuk sekali ini.
***
Hari ini kuliah perdanaku. Tanpa semangat yang menggebu karena sudah kutebak apa isi perkuliahan nanti, perkenalan. Kuliah pertama hampa.
Ruangan B301, lantai tiga gedung B. Gedung yang usang, kabarnya akan segera direnovasi. Ah, itu dia kelasku. Belum banyak yang datang. Masih jam 6:50WIB. Apa aku terlalu cepat? Mataku menyapu ruangan. Sejenak aku tertegun. Fifi?
Senin, Agustus 2015
Dia masih tertegun di pintu kelas hingga akhirnya gadis itu menjatuhkan pandangan padanya. Ia gagap, tapi tetap bersikap biasa, mengalihkan pandangan ke seisi kelas. Bangku belakang kosong, depan juga kosong. Pilihan terbaik agar tidak melihat wajah gadis itu adalah di depan, fokus pada dosen.
Kelas ini penuh dengan bisikan, obrolan, hingga teriakan penghuni barunya. Cowok berkacamata itu tetap diam. Giginya bergemeletuk (entahlah apa namanya) menahan geram. Di belakangnya gadis-gadis dg rambut terurai berbincang seperti di pasar, bahkan lebih dari itu. Cowok itu mengeluarkan pulpen dan catatan:
"Jangan pernah duduk di depan cewek tak berhijab itu"
Ia mengeluarkan smartphone dan headset. Lagu "Penantian Bodoh" mengalun, menggoyang koklea, mengalir di otak, bergetar di bibir, ikut bersenandung.
Dia tahu nama cewek itu. Fifi Anggita. Entah ia bidadari yang turun dari surga mana. Mungkin dari desa yang penuh boso medho', atau metropolitan yang hingar bingar lampu disko. Sebenarnya, bahkan kehadirannya tak ia harapkan di kelas ini. Kutukannya yang lain, mudah memberikan hati, meski tersayat nanti.
Pernah dengar teori Chung-Shu milik Confucious? "Jika kau mengharapkan orang lain untuk melakukan sesuatu padamu, kau harus melakukan hal yang sama itu dulu." Nampaknya itu tidak berlaku untuk Dean. Itu terlihat hanya sebagai harapan, ke-GR-an, dan berubah jadi kekecewaan. Namun, Dean berbeda. Ia lebih condong pada pemikiran teori Yi-nya bahwa "Kita menolong bukan karena ingin ditolong. Tetapi karena orang lain butuh pertolongan kita." Mungkin inilah yang menjadi eksistensi manusia dalam diri Dean. Yah, meskipun teori imperatif hipotesis itu ditentang oleh imperatif kategoris Kant. Apalagi Dean bukanlah penganut eksistensialisme Kierkegaard. Dia hanyalah, entahlah.
"Kamu yang namanya Faqihuddin?"
Lamunannya buyar seketika. Sejak kapan dia duduk disampingnya?
Fifi
Lelaki itu selalu duduk di bangku depan bagian Timur. Ia terlihat tak banyak bicara, padahal teman-teman di sekitarnya terlihat asik ngobrol. Aku memperhatikannya dari bangku tengah. Sesekali, ia menoleh, tetapi tak melihatku. "Eh, Dini, kamu tahu cowok yang diem itu gak?" tanyaku pada sebelah.
"Enggak tuh, kenapa sih?" balasnya.
"Nggak ada apa-apa, kok," pungkasku.
Aku termasuk salah seorang mahasiswa di Kampus Kerakyatan, Yogyakarta. Sebenarnya, aku hanya iseng mendaftar, eh, tau-tau diterima. Aku tidak berencana untuk berlama-lama di sini. Ya, masih menunggu seleksi USM STAN. Hmm, selagi di kampus yang elit ini, akan kuhabiskan waktuku dengan teman-teman baru, setidaknya hingga November.
Ada satu hal yang membuatku tertarik dengan kampus ini, yaitu fakultas yang kurasa anti-mainstream. Kau tahu? Filsafat! Ada sesuatu yang membuatku penasaran apa itu filsafat hingga akhirnya aku memilih fakultas ini sebagai 'persinggahan' sementaraku.
Hari ini adalah hari perdana aku menjadi mahasiswa, yah, meski tak lama. Agenda untuk hari ini tentu saja perkenalan. Bu Dosen mengabsen mahasiswa satu per satu. Sebenarnya kata yang pas bukanlah 'absen' (tidak masuk), melainkan 'presensi' (kehadiran). Fakta pertama yang baru kutahu di bangku kulah.
"Fifi Anggita?" Bu Dosen memanggil.
"Saya, Bu!" aku mengacungkan tangan.
"Faqihuddin Irsyad!"
Aku melihat lelaki itu mengacungkan tangannya. Jadi itu namanya?
"Hai, Faqihuddin!" Aku menyapa cowok itu setelah jam kuliah berakhir. "Aku Fifi, Fifi Anggita."
"Oh, hai. Panggil saja aku Udin." Ia menjawab, tanpa ekspresi.
Mata kami bertemu. Aku bisa melihat wajahnya. Tiba-tiba waktu berhenti.
Wajah itu sepertinya tak asing di ingatanku. Ah, mungkin aku hanya berhalusinasi. Robert Audi bilang jangan memepercayai ingatan sebagai sumber pengetahuan, karena bahkan kita tidak bisa mengingat pembicaraan kita semenit yang lalu. Benar, kan? Yah, kecuali kau itu mesin.
"Ku dengar kau dari pesantren ya?" Cowok itu mengalihkan pembicaraan. Hei, dari mana ia tahu?
"Iya, aku baru pertama di pesantren. Kata ortu kalau kuliah di Filsafat itu harus mondok biar gak jadi atheis. Rumornya sih gitu," aku jawab sekenanya.
"Hmm, apa kau pernah kehilangan sendalmu?" tanyanya lagi.
"Wah, iya. Padahal aku baru semalem di situ, tapi sendalku udah ilang. Katanya sih itu udah biasa di pesantren, kata yg senior. Apalagi kalo banyak anak kecilnya. Duh~" aku tanpa sadar curhat. Ya ampun, padahal baru aja kenalan. Tapi, kurasa dia asik.
"Oh, gitu..." ia manggut-manggut.
"Eh, Fifi..." sapanya, "Apa kau..."
"Fifi, ke Bonbin, yuk!" ajak Dini dan Susi.
Pembicaraan kami terpotong di situ. Yah, aku lapar sih. Dia tidak mau diajak makan bareng. Ya, sudahlah.
****
Ah, aku terlambat! Padahal ini kuliah perdanaku yg kedua. Fuh, masih sempat, masih sempat. Yak, aku lupa kelasnya di lanrai tiga! Duh~ Fifi, semangat!
Hei, ada cowok di tangga lantai tiga. Apa dia sekelas denganku? Ah, sapa sajalah.
"Eh, masuknya jam berapa sih?" tanyaku to the point. Ia menoleh padaku sekejap. Sepertinya aku tau dia.
"Udah masuk. Kita telat. Seenggaknya masih lima menit lagi toleransi telat," jawab cowok itu.
"Yuk, cepetan masuk!" Aku mempercepat langkahku. Fuh, akhirnya sampai kelas.
Aku baru ingat. Dia itu Udin!
:: Bersambung ::